Langsung ke isi
Selasa, 13 Oktober 202621.09 WITTIDORE · MALUKU UTARA
Pemerintahan

Gubernur Sherly Tjoanda Apresiasi Panitia dan Pimpinan OPD seusai Upacara HUT ke-27 Maluku Utara

Gubernur Sherly Tjoanda menyampaikan apresiasi kepada panitia dan pimpinan OPD seusai upacara HUT ke-27 Maluku Utara di Sofifi, sekaligus memaparkan capaian pemerintah provinsi.

Bagikan
Peringatan HUT ke-27 Provinsi Maluku Utara di halaman Masjid Raya Shaffulkhairaat, Sofifi, Senin (12/10/2026).
Peringatan HUT ke-27 Provinsi Maluku Utara digelar di halaman Masjid Raya Shaffulkhairaat, Sofifi, Senin (12/10/2026). (Foto: Dok. Redaksi felanews.id)

SOFIFI — Perayaan besar tidak berakhir saat upacara ditutup atau panggung dibongkar. Di balik meriahnya HUT ke-27 Provinsi Maluku Utara, ada kerja panjang sejak persiapan, koordinasi antarlembaga, hingga seluruh rangkaian kegiatan mencapai puncaknya.

Saat peringatan digelar di halaman Masjid Raya Shaffulkhairaat, Sofifi, Senin (12/10/2026), Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menyampaikan apresiasi kepada Ketua Panitia Marwan Polisiri dan seluruh pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) yang terlibat dalam pelaksanaan agenda tahunan itu.

Apresiasi tersebut bukan sekadar ucapan terima kasih seusai acara. Ia merupakan pengakuan atas pekerjaan yang kerap tidak terlihat, namun menentukan apakah perayaan berlangsung tertib, terkoordinasi, dan meninggalkan kesan bagi masyarakat.

“Terima kasih kepada ketua panitia dan seluruh pimpinan OPD yang sudah bekerja dengan baik. Saya sangat mengapresiasi dedikasi luar biasa ini,” ujar Sherly dalam sekapur sirih seusai upacara peringatan HUT Provinsi Maluku Utara.

Pernyataan itu menempatkan Marwan Polisiri dan jajaran panitia sebagai bagian penting keberhasilan HUT ke-27. Acara pemerintahan yang tampak rapi menyimpan pekerjaan tidak sederhana: menyatukan jadwal, mengoordinasikan kebutuhan setiap instansi, memastikan pelayanan bagi tamu, dan menjaga agar kegiatan berjalan dalam satu rangkaian yang saling mendukung.

Apresiasi untuk Kerja yang Tidak Selalu Terlihat

Pada agenda sebesar HUT provinsi, keberhasilan tidak lahir dari satu meja kerja. Hasil itu dibangun lewat koordinasi banyak pihak, keputusan yang diambil tepat waktu, dan kesediaan setiap unsur bergerak menuju tujuan yang sama.

Di titik inilah peran ketua panitia menjadi penting. Marwan Polisiri bertanggung jawab mengoordinasikan beragam kebutuhan penyelenggaraan, dari persiapan hingga kegiatan puncak. Tugas itu menuntut kemampuan menjaga komunikasi, menyelaraskan kepentingan, dan memastikan setiap bagian menjalankan perannya.

Meski begitu, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari keterlibatan seluruh pimpinan OPD dan jajaran pelaksana. Parade kebudayaan, partisipasi empat kesultanan, perlombaan, serta pelayanan publik yang melibatkan 15 OPD di Alun-alun Sofifi menunjukkan bahwa peringatan hari jadi provinsi tidak hanya bertumpu pada seremoni, tetapi juga pada partisipasi berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat.

Karena itu, apresiasi Sherly kepada Marwan dan seluruh pimpinan OPD memiliki makna lebih luas. Pengakuan itu menegaskan bahwa kerja kolektif layak tercatat sebagai keberhasilan pemerintah, termasuk pekerjaan di balik layar yang tidak selalu menyita perhatian publik.

Saat acara berjalan tertib, publik mungkin hanya melihat hasil akhirnya. Padahal, kelancaran itu buah proses panjang yang menuntut ketelitian, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Dari Keberhasilan Acara ke Capaian Pembangunan

HUT ke-27 Maluku Utara tahun ini mengusung tema “Tumbuhnya Harus Terasa”. Tema itu mengingatkan bahwa pertumbuhan daerah semestinya tidak berhenti pada angka statistik, peningkatan pendapatan, atau banyaknya program yang diumumkan. Pertumbuhan harus hadir dalam kehidupan masyarakat, lewat layanan yang kian baik, infrastruktur yang memadai, dan kesejahteraan yang makin merata.

Dalam pidatonya, Sherly memaparkan sejumlah capaian pemerintah provinsi sejak awal kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur Sarbin Sehe. Salah satu yang disorot ialah peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Sherly menyebut PAD Maluku Utara naik dari sekitar Rp800 miliar saat dirinya dilantik menjadi Rp1,6 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2026.

“PAD-nya Rp800 miliar. Hari ini APBD-P 2026 PAD-nya sudah Rp1,6 triliun, naik dua kali lipat,” kata Sherly di hadapan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Pada bidang pendidikan, pemerintah provinsi menggratiskan uang komite bagi siswa SMA, SMK, dan SLB dalam 100 hari pertama kepemimpinan. Di sektor kesehatan, pemerintah memperluas cakupan jaminan kesehatan lewat Universal Health Coverage (UHC) dengan dukungan sepuluh kabupaten dan kota.

Pemerintah juga membuka layanan operasi jantung di Ternate dan merencanakan renovasi RSUD Chasan Boesoirie pada 2027. Penguatan layanan radiologi di rumah sakit Sofifi pun menjadi perhatian, agar warga yang membutuhkan penanganan tertentu tidak selalu dirujuk ke luar daerah.

Di sektor perumahan, rumah tidak layak huni yang direnovasi pemerintah provinsi bertambah dari 700 unit pada 2025 menjadi 1.200 unit pada 2026. Pemerintah menargetkan jumlahnya naik lagi menjadi 1.500 unit pada 2027.

Sementara itu, pembangunan infrastruktur pertanian mencatat sekitar 150 kilometer jalan tani selama 2025–2026, dengan rencana pembangunan 200 kilometer pada tahun berikutnya.

Dari sisi fiskal, pemerintah provinsi mengalokasikan sekitar Rp300 miliar dalam APBD Perubahan untuk membayar dana bagi hasil kepada kabupaten dan kota. Pada 2027, anggaran Rp250 miliar disiapkan guna mencicil kewajiban tersebut.

Rangkaian capaian itu memperlihatkan arah kerja pemerintah yang hendak diperkuat. Namun, sejalan dengan pesan tersirat tema HUT tahun ini, capaian administratif dan anggaran pada akhirnya harus diterjemahkan menjadi manfaat yang dirasakan masyarakat.

Pekerjaan Rumah yang Masih Menunggu

Di samping capaian tersebut, Sherly mengakui masih ada pekerjaan yang perlu dipercepat. Revitalisasi puskesmas, tambahan anggaran perbaikan sekolah, dan perlindungan hak pekerja melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan termasuk hal yang masih membutuhkan perhatian.

Pemerintah provinsi turut memfasilitasi layanan isbat nikah dan pencatatan perkawinan bagi sekitar 130 nelayan yang sebelumnya hanya menikah secara agama. Kelengkapan identitas hukum itu penting agar warga dapat mengakses pelayanan dan berbagai fasilitas negara.

Pada saat yang sama, upaya memperkuat identitas budaya Maluku Utara terus didorong, antara lain lewat pembahasan regulasi penggunaan baju adat dari sepuluh kabupaten dan kota serta rencana perlombaan penyusunan Mars Maluku Utara.

Daftar itu menunjukkan pembangunan tidak pernah benar-benar rampung dalam satu momentum. Kebutuhan baru selalu muncul, pelayanan harus terus dibenahi, dan sejumlah kelompok masyarakat menanti kehadiran pemerintah yang kian terasa.

Peningkatan PAD, misalnya, merupakan perkembangan penting bagi kapasitas fiskal daerah. Akan tetapi, ukuran akhirnya bukan semata besarnya kenaikan pendapatan, melainkan cara sumber daya itu dikelola untuk memperbaiki pelayanan, memperkuat infrastruktur, dan memperluas kesejahteraan hingga seluruh wilayah Maluku Utara.

Hal serupa berlaku pada keberhasilan penyelenggaraan HUT. Acara yang tertib adalah capaian organisasi, tetapi mutu pemerintahan lebih jauh ditentukan oleh konsistensi kerja setelah perayaan usai.

Marwan dan Tanggung Jawab Menjaga Semangat Kolaborasi

Apresiasi Sherly kepada Marwan Polisiri dan seluruh pimpinan OPD patut dibaca sebagai penghargaan atas kerja bersama. Memimpin kepanitiaan dalam agenda besar pemerintahan tidak hanya memastikan acara terlaksana, tetapi juga menghubungkan banyak unsur agar bekerja searah.

Dalam konteks itu, Marwan menjadi salah satu figur yang memikul tanggung jawab koordinasi, sedangkan keberhasilan keseluruhan tetap hasil kontribusi banyak pihak.

Penghargaan itu sekaligus mengingatkan bahwa semangat kolaborasi selama persiapan HUT perlu dijaga dalam tugas pemerintahan sehari-hari. Koordinasi yang baik pada agenda besar semestinya hadir pula ketika warga mengurus dokumen, membutuhkan layanan kesehatan, mengakses pendidikan, atau menanti pembangunan infrastruktur di wilayahnya.

Sebab, masyarakat menilai pemerintah tidak hanya dari cara sebuah perayaan digelar. Mereka juga menilai dari mudahnya pelayanan diakses, cepatnya persoalan ditangani, dan nyatanya perubahan yang dirasakan.

Di situlah tantangan sesungguhnya seusai rangkaian HUT: menjaga agar energi kolektif yang tampak di Sofifi tidak ikut berhenti bersama berakhirnya upacara.

Perayaan Boleh Usai, Pengabdian Harus Berlanjut

Dua puluh tujuh tahun perjalanan Maluku Utara menjadi momentum untuk meninjau capaian sekaligus mengukur pekerjaan yang masih harus dituntaskan. Peringatan hari jadi provinsi semestinya tidak hanya menjadi ruang mengenang perjalanan daerah, tetapi juga kesempatan memperbarui komitmen bagi masa depan.

Apresiasi kepada Marwan Polisiri dan seluruh pimpinan OPD menjadi bagian dari catatan positif penyelenggaraan HUT tahun ini. Pengakuan itu penting karena kerja yang baik layak dihargai. Meski demikian, penghargaan akan lebih bermakna bila semangat kerja yang sama terjaga setelah sorotan publik beralih ke agenda lain.

Pada akhirnya, kesuksesan sebuah perayaan dapat diukur dari kelancaran pelaksanaannya. Adapun keberhasilan pemerintahan harus dibuktikan lewat pelayanan yang konsisten, pembangunan yang merata, dan kebijakan yang sungguh menjawab kebutuhan masyarakat.

HUT ke-27 Maluku Utara telah menjadi panggung apresiasi, refleksi, dan pemaparan capaian. Kini, pekerjaan yang lebih panjang menanti untuk dituntaskan.

Upacara memang bisa selesai dalam hitungan jam, dan perayaan mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun tanggung jawab membangun Maluku Utara, memastikan pertumbuhannya terasa, dan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat tidak mengenal upacara penutupan.

Panggung boleh dibongkar. Semangat kolaborasi jangan ikut berakhir. (@b)

— AKHIR BERITA —
Bagikan

Berita Terkait