Langsung ke isi
Senin, 26 Oktober 202613.06 WITTIDORE · MALUKU UTARA
Pendidikan

Abubakar Pantau TKA, 21.773 Siswa Diuji

Sebanyak 21.773 siswa kelas XII di Maluku Utara mulai menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), Senin, 26 Oktober 2026.

Bagikan
Pemantauan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 dari Pusat Dukungan dan Posko Tim Teknis di SMK Negeri 2 Ternate, Senin (26/10/2026).

TERNATE – Sebanyak 21.773 siswa kelas XII di Maluku Utara mulai menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), Senin, 26 Oktober 2026. Di balik pelaksanaan ujian yang berlangsung serentak, tes ini membawa pertanyaan lebih besar: sejauh mana pendidikan di Maluku Utara mampu membekali siswa dengan kemampuan akademik yang memadai?

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Maluku Utara, Abubakar Abdullah, memantau pelaksanaan TKA dari Pusat Dukungan dan Posko Tim Teknis serta Pendampingan Penyelia di SMK Negeri 2 Ternate. Ia didampingi Sekretaris Dikbud Sofyan dan Kepala Bidang Pembinaan SMK, Makmur.

Dari posko tersebut, kesiapan perangkat, jaringan internet, hingga sistem pengawasan ujian dipantau bersama tim teknis yang dipimpin Adrian.

Suasana pemantauan pelaksanaan TKA bersama tim teknis di SMK Negeri 2 Ternate, Senin (26/10/2026).

“Alhamdulillah, pelaksanaannya berjalan dengan baik. Ada beberapa kendala teknis yang kami temui hari ini dan mudah-mudahan segera dilakukan perbaikan,” kata Abubakar.

Hari pertama tak sepenuhnya mulus. Tim teknis menemukan keterlambatan tautan pengawasan yang bersumber dari sistem nasional Pusat Asesmen Pendidikan. Akibatnya, waktu pelaksanaan pengawasan oleh penyelia ikut terdampak. Sejumlah pengaturan komputer di sekolah juga belum sesuai.

Namun, kendala tersebut dapat ditangani. Secara umum, pelaksanaan tes tetap berjalan tanpa gangguan berarti.

“Secara umum, pelaksanaan tetap berjalan dengan lancar tanpa gangguan. Beberapa pengaturan komputer yang belum pas juga sudah diselesaikan,” ujar Adrian.

Posko teknis menjadi simpul koordinasi pelaksanaan TKA di seluruh Maluku Utara. Sistem ini menghubungkan sekolah dengan pusat sekaligus mendukung pengawasan oleh perguruan tinggi yang ditugaskan sebagai penyelia.

Pengawasan juga menempatkan independensi sebagai prinsip penting. Abubakar mengaku tidak diperkenankan memasuki ruang ujian saat tes berlangsung. Aturan itu menjadi bagian dari upaya menjaga integritas pelaksanaan asesmen.

Sebanyak 21.773 peserta berasal dari SMA, SMK, SMALB, madrasah, dan SMA Kristen. Pelaksanaan dibagi dalam dua gelombang, masing-masing dengan tiga sesi. Pembagian ini menyesuaikan ketersediaan sarana, terutama komputer, agar seluruh peserta dapat mengikuti ujian sesuai jadwal.

Pada hari pertama, siswa mengerjakan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pelaksanaan berikutnya dijadwalkan bertahap sesuai gelombang dan sesi yang telah ditentukan.

Bagi Dikbud Maluku Utara, persoalan teknis pada hari pertama menjadi catatan untuk koordinasi lebih lanjut dengan pemerintah pusat. Perbaikan diperlukan agar kendala serupa tidak berulang pada sesi berikutnya.

Namun, perhatian Abubakar tak berhenti pada urusan teknis. Ia mengingatkan siswa untuk menjaga kesehatan dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

“Karena sudah di lapangan, kami harapkan siswa-siswi menjaga kesehatan. Yang kedua, tampilkan kemampuan secara maksimal,” katanya.

Pesan itu sekaligus menegaskan bahwa TKA bukan sekadar rangkaian ujian yang harus diselesaikan. Hasilnya diharapkan memberi gambaran mengenai kemampuan akademik siswa, termasuk capaian literasi dan numerasi, sekaligus menjadi salah satu bahan evaluasi mutu pendidikan daerah.

Di sinilah arti penting asesmen tersebut. Angka hasil ujian tidak semestinya berhenti sebagai catatan capaian peserta didik. Pemerintah daerah perlu membacanya sebagai petunjuk untuk mengenali kekuatan dan kelemahan pembelajaran, lalu menentukan bagian mana yang harus diperbaiki.

Indikator lain, termasuk akses pendidikan yang tercermin dalam rapor pendidikan, juga menjadi perhatian dalam membaca kondisi pendidikan secara lebih utuh.

Pelaksanaan TKA mungkin akan berakhir setelah seluruh gelombang dan sesi dituntaskan. Tetapi pekerjaan memperbaiki pendidikan tidak selesai bersama berakhirnya ujian.

Bagi Maluku Utara, tantangan sesungguhnya adalah memastikan 21.773 siswa itu tidak hanya tercatat sebagai peserta asesmen, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan yang lebih bermutu. Hasil tes baru akan berarti ketika temuan di dalamnya diterjemahkan menjadi kebijakan dan perbaikan nyata di sekolah. (@b)

— AKHIR BERITA —
Bagikan

Berita Terkait