Langsung ke isi
Senin, 26 Oktober 202603.30 WITTIDORE · MALUKU UTARA
Borero Tidore

Merawat Warisan Leluhur, Sultan Kukuhkan Bobato Tuguiha

Pelantikan imam dan perangkat adat di Kelurahan Tuguiha, Kecamatan Tidore Selatan, bukan sekadar pengukuhan jabatan.

Bagikan
Sultan Tidore, H. Husain Sjah, melantik imam dan perangkat adat dalam prosesi Karo Ronga Bobato Dunia dan Bobato Akhirat di Masjid Mubarak, Kelurahan Tuguiha, Jumat (23/10/2026).

TIDORE – Masjid Mubarak, Kelurahan Tuguiha, Kecamatan Tidore Selatan, Jumat (23/10/2026), menjadi saksi pengukuhan 11 Bobato Dunia dan Bobato Akhirat. Prosesi adat Sodorine se Karo Ronga itu menegaskan kembali hubungan antara adat, agama, dan tanggung jawab menjaga warisan leluhur di tengah masyarakat.

Sultan Tidore, H. Husain Sjah, memimpin langsung prosesi pengukuhan yang mencakup unsur Bobato Adat dan Bobato Labe. Sejumlah perwakilan Bobato Adat Kesultanan Tidore serta Imam Syarah Sigi Kolano turut menghadiri kegiatan tersebut.

Arak-arakan rombongan adat dalam rangkaian prosesi di Kelurahan Tuguiha, Kecamatan Tidore Selatan, Jumat (23/10/2026).

Bagi Husain Sjah, pengukuhan ini bukan sekadar seremoni. Ada tanggung jawab keagamaan dan adat yang menyertai jabatan yang kini diemban para tokoh tersebut.

“Alhamdulillah, masjid-masjid adat yang selama ini imamnya sudah ada, tetapi belum dikukuhkan secara syariat dan hakikat, kini telah diformalkan sebagai penjaga masjid-masjid adat peninggalan orang tua-tua kita,” ujar Husain Sjah dalam wawancara seusai prosesi.

Ia berharap, pengukuhan itu menjadi pijakan bagi para imam dan perangkat adat untuk menjalankan tugas, fungsi, serta tanggung jawab mereka dengan sebaik-baiknya.

Imam sebagai teladan

Husain Sjah juga mengingatkan masyarakat Tuguiha agar bersama-sama menjaga kampung dan menghormati peran imam dalam kehidupan keagamaan.

Menurut dia, pengetahuan agama yang dimiliki seseorang tidak semestinya membuatnya mengabaikan kedudukan imam. Dalam pelaksanaan ritual keagamaan, imam tetap menjadi pemimpin yang harus dihormati dan dijadikan teladan.

Ia berharap para imam yang telah dikukuhkan mampu membimbing umat sesuai tuntunan Al-Qur’an, sunah Rasulullah Muhammad SAW, serta ajaran para ulama terdahulu yang mewariskan adab dan tata cara beribadah kepada Allah SWT.

“Jadikanlah imam sebagai contoh. Saya berharap setelah pelantikan ini, mereka dapat memberikan contoh terbaik dalam menuntun umat, sesuai dengan apa yang telah digariskan Allah SWT di dalam Al-Qur’an dan sunah Rasulullah Muhammad SAW,” katanya.

Pesan itu sekaligus menjadi ajakan kepada masyarakat untuk menjaga kehidupan Islam dengan baik, tanpa melepaskan nilai-nilai kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menjaga warisan leluhur

Prosesi Sodorine se Karo Ronga memperlihatkan bagaimana struktur adat dan keagamaan tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Tuguiha.

Dalam struktur yang dikukuhkan, Bobato Adat terdiri atas unsur Simo dan Ngato, sedangkan Bobato Labe mencakup Qadhi dan para imam. Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga tatanan adat dan kehidupan keagamaan masyarakat.

Jamaah perempuan menghadiri prosesi pelantikan imam dan perangkat adat di Kelurahan Tuguiha.

Sebanyak 11 tokoh yang dikukuhkan terdiri atas satu Qadhi, dua imam, serta delapan perangkat adat yang mencakup unsur Simo dan Ngato.

Berikut nama-nama yang dikukuhkan:

Abubakar Nurdin — Qadhi Masjid Tuguiha.

Halik Jafar — Imam Tuguiha.

Nasrun Majojo — Imam Muda Tuguiha.

Ahmad Gani — Simo Kalaodi.

A. Rahim Ismail — Simo Manyira.

Kamarudin Salasa — Simo Majojo.

Suldin Falabesi — Simo Falabesi.

Ade A. Rahman — Ngato Marga Gantina.

Idris Sehe — Ngato Marga Doofa.

Mansur A. Rahman — Ngato Marga Taran.

M. Ali Tari — Ngato Marga Tokaho.

Pengukuhan ini diharapkan tidak berhenti pada pengesahan kedudukan para tokoh, tetapi berlanjut dalam praktik sehari-hari: menjaga masjid adat, merawat tradisi, membimbing umat, dan memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat.

Bagi Tuguiha, menjaga kampung bukan hanya soal mempertahankan warisan masa lalu. Ia juga menyangkut bagaimana nilai-nilai yang diwariskan para leluhur tetap hidup dan menjadi pegangan bagi generasi berikutnya.

Pesan Sultan Tidore itu menjadi penutup yang tegas: adat dijaga, imam dihormati, dan kehidupan beragama dijalankan dengan adab serta tanggung jawab.(@b)

— AKHIR BERITA —
Bagikan

Berita Terkait