Langsung ke isi
Minggu, 25 Oktober 202604.07 WITTIDORE · MALUKU UTARA
Borero Tidore

Sultan Tidore Lantik Imam dan Perangkat Adat Tuguiha, Tegaskan Pentingnya Adab dan Tuntunan Agama

Pelantikan imam dan perangkat adat di Kelurahan Tuguiha, Kecamatan Tidore Selatan, bukan sekadar pengukuhan jabatan.

Bagikan
Sultan Tidore, H. Husain Sjah, melantik imam dan perangkat adat dalam prosesi Karo Ronga Bobato Dunia dan Bobato Akhirat di Masjid Mubarak, Kelurahan Tuguiha, Jumat (23/10/2026).

TIDORE – Pelantikan imam dan perangkat adat di Kelurahan Tuguiha, Kecamatan Tidore Selatan, bukan sekadar pengukuhan jabatan. Di balik prosesi Karo Ronga Bobato Dunia dan Bobato Akhirat itu, tersimpan pesan tentang kesinambungan tradisi, penghormatan terhadap ulama, serta tanggung jawab menjaga warisan keagamaan leluhur.

Yang Mulia Sultan Tidore, H. Husain Sjah, melantik 11 orang imam dan perangkat adat dalam prosesi yang berlangsung di Masjid Mubarak, Kelurahan Tuguiha, Jumat (23/10/2026). Sejumlah Bobato Adat Kesultanan Tidore dan Imam Syarah Sigi Kolano Kesultanan Tidore turut menghadiri kegiatan tersebut.

Arak-arakan rombongan adat dalam rangkaian prosesi di Kelurahan Tuguiha, Kecamatan Tidore Selatan, Jumat (23/10/2026).

Bagi masyarakat Tuguiha, pengukuhan ini menjadi bagian dari upaya menegaskan kedudukan para penjaga masjid adat yang diwariskan oleh generasi terdahulu. Sebagian imam, menurut Husain Sjah, selama ini telah menjalankan perannya, tetapi belum dikukuhkan secara formal sesuai dengan ketentuan syariat dan hakikat.

“Alhamdulillah, hari ini mereka telah diformalkan sebagai penjaga masjid-masjid adat peninggalan orang tua-tua kita,” ujar Husain Sjah.

Ia berharap pelantikan tersebut tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi awal dari pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang lebih baik. Para imam diharapkan mampu membimbing umat, menjaga tata cara peribadatan, serta menjadi teladan bagi masyarakat.

Imam bukan sekadar pemimpin ritual

Dalam pesannya kepada masyarakat Tuguiha, Sultan Tidore menekankan pentingnya menghormati imam sebagai pemimpin dalam urusan keagamaan, termasuk ketika masyarakat telah memiliki pengetahuan agama masing-masing.

Menurut dia, penghormatan terhadap imam merupakan bagian dari upaya menjaga ketertiban kehidupan beragama sekaligus merawat tradisi yang telah diwariskan para ulama terdahulu.

“Jadikanlah imam sebagai contoh,” pesannya.

Husain Sjah juga mengingatkan bahwa tanggung jawab seorang imam tidak berhenti pada pelaksanaan ritual. Mereka diharapkan mampu menuntun umat berdasarkan ajaran Allah SWT dalam Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, serta nilai-nilai keagamaan yang diwariskan para ulama.

Pesan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa jabatan keagamaan membawa tanggung jawab moral. Keteladanan, adab, dan pemahaman terhadap tata cara beribadah menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Menjaga kampung, merawat warisan leluhur

Selain urusan keagamaan, Husain Sjah mengajak seluruh masyarakat Tuguiha menjaga kampung sebagai ruang hidup bersama. Semangat kebersamaan, menurut pesan yang disampaikannya, harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap adat dan pelaksanaan ajaran agama.

“Marilah bersama-sama kita menjaga Kampung Tuguiha, kampung torang samua,” ujarnya.

Jamaah perempuan menghadiri prosesi pelantikan imam dan perangkat adat di Kelurahan Tuguiha.

Ajakan tersebut menempatkan adat dan agama sebagai dua unsur yang saling berkaitan dalam kehidupan masyarakat. Warisan leluhur tidak hanya dipertahankan melalui simbol dan prosesi, tetapi juga melalui praktik sehari-hari: menghormati pemimpin agama, menjaga hubungan sosial, serta meneruskan nilai-nilai yang dianggap penting oleh komunitas.

Di tengah perubahan zaman, keberadaan imam dan perangkat adat menjadi bagian dari kesinambungan pengetahuan serta tradisi yang hidup di tengah masyarakat Tuguiha.

Husain Sjah juga mengajak masyarakat menjaga Islam dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pesan itu menegaskan bahwa pelestarian tradisi keagamaan dan adat dapat berjalan bersama dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebelas orang dikukuhkan

Dalam prosesi Karo Ronga Bobato Dunia dan Bobato Akhirat tersebut, terdapat 11 orang yang dilantik dengan jabatan sebagai berikut:

Abubakar Nurdin — Qadhi Masjid Tuguiha.

Halik Jafar — Imam Tuguiha.

Nasrun Majojo — Imam Muda Tuguiha.

Ahmad Gani — Simo Kalaodi.

A. Rahim Ismail — Simo Manyira.

Kamarudin Salasa — Simo Majojo.

Suldin Falabesi — Simo Falabesi.

Ade A. Rahman — Ngato Marga Gantina.

Idris Sehe — Ngato Marga Doofa.

Mansur A. Rahman — Ngato Marga Taran.

M. Ali Tari — Ngato Marga Tokaho.

Pelantikan tersebut menjadi penanda pengukuhan peran para imam dan perangkat adat dalam kehidupan masyarakat Tuguiha. Tantangan berikutnya adalah memastikan amanah yang diterima benar-benar dijalankan melalui pelayanan keagamaan, keteladanan, dan komitmen menjaga warisan leluhur.

Sebab, bagi masyarakat yang menempatkan adat dan agama sebagai bagian penting dari identitasnya, tradisi tidak cukup hanya dikenang. Ia perlu dirawat, dijalankan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Suba se tabea. (@b)

— AKHIR BERITA —
Bagikan

Berita Terkait