Langsung ke isi
Senin, 19 Oktober 202603.49 WITTIDORE · MALUKU UTARA
Olahraga

Rifaldi Cemas Konflik IMI Malut Bisa Merugikan Atlet

Rifaldi Muhammad Taher, atlet sekaligus pemilik Gala Indo Racing Team, khawatir dualisme di IMI Maluku Utara mengancam masa depan para atlet.

Bagikan
Rifaldi Muhammad Taher, pembalap motor sekaligus pemilik Gala Indo Racing Team.

TERNATE – Semangat atlet mengharumkan nama Maluku Utara lewat balap motor masih menyala, namun pertikaian di internal organisasi memunculkan tanda tanya soal arah pembinaan olahraga otomotif di daerah ini.

Rifaldi Muhammad Taher, atlet sekaligus pemilik Gala Indo Racing Team, mengungkapkan kegelisahannya atas dinamika di Ikatan Motor Indonesia (IMI) Maluku Utara. Menurutnya, masalah di tubuh organisasi tidak hanya soal perebutan pengaruh antarpengurus, tetapi juga menyangkut nasib atlet yang bergantung pada keberlanjutan pembinaan balap motor.

Kegelisahan tersebut semakin kuat setelah ia hadir dalam Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) II IMI Maluku Utara yang digelar di Mozaik Cafe, Kelurahan Puncak, Kota Ternate, Minggu (18/10/2026). Alih-alih menjadi wadah menyamakan gagasan dan menyusun program kerja, forum itu justru diwarnai aksi walk out dari sejumlah klub.

“Saya pribadi menilai IMI sudah berjalan dalam kondisi dualisme selama satu tahun terakhir,” ujar Rifaldi.

Ia pun bertanya-tanya hingga kapan situasi tersebut akan berlanjut. Ia berpendapat, organisasi olahraga semestinya menjadi tempat bernaung bagi atlet, klub, dan pengurus demi meraih prestasi, bukan terseret dalam pertikaian yang berkepanjangan.

Rifaldi menekankan bahwa etika dan mekanisme organisasi tidak boleh dianggap remeh. Apabila persoalan internal tak kunjung dituntaskan secara tepat, akibatnya bisa meluas ke program pembinaan, kepastian kompetisi, sampai rasa percaya atlet kepada organisasi.

“Yang membuat saya resah adalah etika pengurus IMI Malut. Mereka harus menyadari bahwa ada persoalan internal yang belum terselesaikan. Pertanyaannya, apakah kondisi seperti ini mampu mengimbangi semangat atlet yang begitu tinggi?” katanya.

Jangan Sampai Atlet Menjadi Korban

Di balik polemik Rakerprov, Rifaldi melihat persoalan yang lebih luas ketimbang perdebatan soal sah atau tidaknya sebuah forum. Menurutnya, ada generasi pembalap Maluku Utara yang memerlukan kepastian arah pembinaan serta tata kelola organisasi yang sehat.

Atlet, kata dia, butuh ruang untuk tumbuh, kompetisi yang jelas arahnya, dan organisasi yang sanggup mendorong peningkatan prestasi. Bila tenaga organisasi terus habis untuk konflik internal, perhatian terhadap kebutuhan atlet dikhawatirkan ikut tersisih.

Kekhawatiran inilah yang menjadi sorotan Rifaldi. Ia tidak menginginkan situasi saat ini justru mengancam keberlanjutan generasi pembalap Maluku Utara di masa mendatang.

Ia menilai mekanisme organisasi wajib dijalankan secara benar dan bertanggung jawab. Keputusan yang diambil tanpa tata kelola yang jelas, menurutnya, dapat memunculkan masalah baru dan pada akhirnya merugikan atlet.

“Organisasi jangan membuat mekanisme yang rusak dan bisa membahayakan atlet ke depan,” tegasnya.

Pernyataan itu mengingatkan bahwa keberadaan organisasi olahraga seharusnya berorientasi pada pembinaan dan prestasi. Kepentingan atlet, dengan demikian, perlu menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan yang diambil.

Rakerprov Diwarnai Walk Out

Sebelumnya, Rakerprov II IMI Maluku Utara pada Minggu (18/10/2026) menuai keberatan dari sejumlah klub. Mereka mempersoalkan cara penyelenggaraan rapat, mulai dari pengiriman undangan, pembentukan panitia pengarah (Steering Committee/SC) dan panitia pelaksana (Organizing Committee/OC), hingga penetapan agenda forum.

Ketua Harian IMI Maluku Utara sekaligus Ketua Phyton Racing Team, Abdurahim Achmad, menyebutkan dari 49 klub yang terdaftar, hanya 27 klub yang menerima undangan Rakerprov.

Dari kelompok klub yang menolak, 13 klub disebut memilih walk out, sedangkan empat klub lain tidak hadir meski telah menerima undangan.

Abdurahim juga menyoroti belum diperlihatkannya bukti administrasi rapat pleno yang menjadi landasan pembentukan SC dan OC serta penetapan agenda Rakerprov. Menurutnya, undangan dan materi rapat yang baru disampaikan menjelang pelaksanaan tidak sejalan dengan mekanisme yang seharusnya.

Kelompok penolak juga mengangkat mosi tidak percaya yang sebelumnya diajukan oleh 24 klub. Mereka menilai persoalan itu belum tuntas secara substansial dan berencana melaporkan dugaan pelanggaran mekanisme organisasi kepada Pengurus Pusat IMI.

Meski demikian, hingga berita mengenai polemik ini disusun, belum ada keterangan resmi dari panitia maupun pengurus IMI Maluku Utara terkait keberatan yang disampaikan kelompok penolak.

Menanti Jalan Keluar

Bagi Rifaldi, polemik ini semestinya menjadi momentum bagi semua pihak untuk meninjau ulang tata kelola organisasi. Perbedaan pandangan, menurutnya, tidak boleh menjadi hambatan dalam upaya membangun prestasi olahraga otomotif di Maluku Utara.

Penyelesaian konflik memerlukan keterbukaan, kejelasan mekanisme, dan komitmen untuk mengedepankan kepentingan bersama. Tanpa hal tersebut, organisasi berisiko kehilangan fokus pada tugas utamanya, yakni memastikan atlet memperoleh ruang pembinaan yang layak.

Pada akhirnya, keberhasilan IMI tidak hanya diukur dari terselenggaranya rapat atau lahirnya keputusan organisasi. Yang lebih penting, organisasi harus mampu menjaga kepercayaan klub, mendampingi atlet, dan membuka jalan bagi munculnya pembalap berprestasi.

Di tengah dinamika yang belum menemukan titik terang, pesan Rifaldi tegas: konflik internal jangan sampai mengorbankan masa depan balap motor Maluku Utara. (@b)

— AKHIR BERITA —
Bagikan

Berita Terkait