Langsung ke isi
Minggu, 11 Oktober 202604.15 WITTIDORE · MALUKU UTARA
Wisata dan Budaya

Pakaian Adat Empat Kesultanan dan Berbagai Suku Meriahkan Kirab Budaya Kie Raha di Sofifi

Kirab Budaya Kie Raha digelar di Sofifi pada Jumat (9/10/2026) dalam rangka HUT ke-27 Provinsi Maluku Utara. Peserta tampil dengan pakaian adat empat kesultanan dan busana berbagai suku.

Bagikan
Peserta Kirab Budaya Kie Raha berpakaian adat dan busana tradisional berjalan menuju Bundaran 40 Sofifi pada HUT ke-27 Provinsi Maluku Utara, Jumat (9/10/2026).

SOFIFI – Peserta mengenakan pakaian adat dari empat kesultanan serta busana khas berbagai suku dalam Kirab Budaya Kie Raha di Sofifi, Maluku Utara, Jumat (9/10/2026). Kegiatan ini digelar untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-27 Provinsi Maluku Utara dan menjadi sarana mengenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat.

Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe melepas langsung para peserta di depan kediamannya di Sofifi. Setelah itu, rombongan berjalan menuju Bundaran 40 Sofifi sambil membawa identitas budaya masing-masing.

Peserta kirab tidak hanya berasal dari perangkat adat empat kesultanan di Maluku Utara. Pengurus OSIS dari berbagai kabupaten dan kota, dari Pulau Taliabu sampai Pulau Morotai, ikut serta. Siswa taman kanak-kanak hingga sekolah menengah, termasuk madrasah, dan sejumlah paguyuban dari berbagai daerah di Indonesia turut memeriahkan acara tersebut.

Ketua Panitia, Darwin Arahman, menyampaikan bahwa keterlibatan beragam kelompok itu bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus merawat warisan budaya Maluku Utara yang bersumber dari tradisi empat kesultanan.

“Intinya adalah bagaimana karya dan kekayaan warisan budaya Maluku Utara yang bersumber dari empat kesultanan ini perlu kita jaga dan kita rawat,” kata Darwin.

Menurut dia, kirab menjadi wadah mempertontonkan keragaman budaya kepada masyarakat, terutama warga Sofifi sebagai ibu kota Provinsi Maluku Utara.

Keikutsertaan pelajar dan organisasi siswa juga dimaksudkan untuk mendekatkan generasi muda dengan tradisi daerah. Darwin menilai pelestarian budaya tidak cukup lewat seremoni, tetapi perlu dibangun melalui keterlibatan langsung masyarakat dan generasi penerus.

Budaya sebagai Perekat Keragaman

Sarbin Sehe menyebut Kirab Budaya Kie Raha sebagai salah satu agenda HUT ke-27 Maluku Utara yang menampilkan kekayaan budaya lewat pakaian dan busana tradisional. Ia berharap kegiatan seperti ini membantu mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

“Budaya seperti ini mampu kita lestarikan, kita padukan dengan nilai kebangsaan, kita perkuat untuk membangun relasi sosial di masa depan,” ujar Sarbin dalam sambutannya.

Menurut Sarbin, nilai kebangsaan berkaitan erat dengan tradisi yang tumbuh di daerah. Ia menyatakan kesepakatan nasional tidak terlepas dari nilai dan tradisi masyarakat di berbagai wilayah Nusantara.

Ia menyebut Maluku Utara memiliki kekayaan tradisi yang tidak hanya ditandai oleh keberadaan empat kesultanan, tetapi juga oleh beragam suku dengan karakteristik budaya masing-masing.

Keragaman itu tampak pada kirab melalui kehadiran kelompok masyarakat berlatar budaya berbeda, termasuk paguyuban Jawa, Sulawesi Selatan, Buton, Sumatra, dan Minangkabau.

Bagi Sarbin, keberagaman tersebut perlu dirawat sebagai modal untuk memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya menjaga hubungan antara adat istiadat dan nilai agama.

“Sepanjang adat istiadatnya tidak mengganggu nilai-nilai ilahiah, nilai teologis kita, wajib untuk melestarikan dan membudayakan sebagai bagian dari upaya mewujudkan ikatan sosial yang lebih baik di masa akan datang,” katanya.

Penyelenggara Kirab Budaya Kie Raha adalah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Abubakar Abdullah hadir bersama Kepala Biro Administrasi Pimpinan, pelaksana tugas kepala dinas yang membidangi energi dan sumber daya mineral, serta perwakilan empat kesultanan. (@b)

— AKHIR BERITA —
Bagikan

Berita Terkait