Langsung ke isi
Jumat, 9 Oktober 202607.00 WITTIDORE · MALUKU UTARA
Pemerintahan

Jalan Lingkar Makian Mulai Dibangun, Janji Konektivitas Sherly-Sarbin Tuntas 2028

Jalan lingkar Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, selama bertahun-tahun lebih banyak hidup sebagai harapan warga.

Bagikan

Makian – Jalan lingkar Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, selama bertahun-tahun lebih banyak hidup sebagai harapan warga. Kini, sebagian jalan yang dinanti masyarakat itu mulai dikerjakan.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara tengah membangun jalan sepanjang lima kilometer dari Desa Sabale hingga Desa Waigitang. Pekerjaan tersebut menjadi tahap awal dari rencana membuka konektivitas antardesa di pulau yang selama ini menghadapi keterbatasan akses darat.
Proyek ini juga mencakup pembangunan dua jembatan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Maluku Utara, Risman Iriyanto Djafar, mengatakan pembangunan jalan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah provinsi untuk menjawab kebutuhan masyarakat Pulau Makian.
“Warga telah lama menanti jalan lingkar tersebut, yang menghubungkan 15 desa di Kecamatan Pulau Makian,” kata Risman seusai kunjungan kerja di Pulau Makian.
Pekerjaan dilaksanakan CV Hnedana Karya Utama dengan nilai kontrak Rp10,3 miliar. Proyek menggunakan kontrak payung dan mulai dikerjakan pada 29 Juni 2026. Sesuai kontrak, pekerjaan ditargetkan berakhir pada 29 Desember 2026.
Hingga September 2026, progres fisik telah mencapai sekitar 30 persen.
Risman mengatakan pemerintah terus mendorong kontraktor agar pekerjaan tidak melampaui batas waktu kontrak. Bagi pemerintah daerah, percepatan penting karena jalan tersebut bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan akses yang dibutuhkan warga untuk menunjang mobilitas dan aktivitas sehari-hari.
“Kami terus mendorong pihak ketiga agar pekerjaan harus selesai tepat waktu, mengingat masyarakat sangat membutuhkan akses tersebut,” ujarnya.
Pada Rabu, 23 September 2026, Risman mendampingi Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dalam kunjungan kerja ke Pulau Makian. Kunjungan dilakukan antara lain ke Desa Dauri dan Desa Rabudaiyo.
Di sela kunjungan, tim teknis Dinas PUPR meninjau langsung pekerjaan jalan dan mengecek perkembangan pembangunan di lapangan.
Kunjungan itu memperlihatkan bahwa pembangunan jalan lingkar Makian tidak berhenti pada satu paket pekerjaan. Pemerintah provinsi mulai menyusun tahapan pembangunan untuk memperpanjang ruas jalan hingga seluruh bagian pulau terhubung.

Sherly mengatakan pembangunan jalan tersebut merupakan bagian dari janji yang disampaikannya kepada masyarakat Makian.

Ia mengingat kembali kunjungannya pada tahun sebelumnya ketika warga meminta pemerintah membangun jalan.
“Jadi 2026, sesuai janji saya, saya ada kunjungan 2025 di sini, katanya minta jalan. 2026 sudah mulai dibangun dari sini? Dari sini ke Sabale, sekitar 5 kilo,” kata Sherly saat berdialog dengan warga.
Namun pembangunan tidak berhenti pada lima kilometer yang dikerjakan tahun ini.
Pemerintah merancang pembangunan secara bertahap. Sherly menyebut pada 2027 ruas jalan akan dilanjutkan dari Floli menuju Mailoa, kemudian pada 2028 pembangunan dilanjutkan dari Mailoa hingga Sabale.
“Jadi kalau so keliling-keliling Pulau Makian, habis itu,” ujarnya, disambut tepuk tangan warga.
Rencana tersebut kemudian berkembang ketika Sherly berdialog dengan warga Desa Rabudaiyo.
Pemerintah sebelumnya merencanakan pembangunan lanjutan sekitar delapan kilometer pada 2027 di wilayah Makian Selatan. Namun warga mengusulkan agar pembangunan juga menyentuh ruas yang menghubungkan wilayah Pulau Makian dan Makian Barat.
Kepala Desa Rabudaiyo meminta pemerintah mempertimbangkan pembangunan ruas sepanjang dua kilometer yang dinilai penting bagi konektivitas masyarakat.
Usulan tersebut langsung direspons Sherly dengan mengubah skema tahapan pembangunan.
“2027, 2 kilo sini, 6 kilo sana, supaya nanti berarti tahun depannya jadi 10 kilo? Oh, 10 kilo aja. 10 kilo aja 2027,” kata Sherly.
Menurut skema yang disampaikan dalam dialog itu, pembangunan kemudian dilanjutkan sekitar delapan kilometer dari Floli ke Mailoa pada 2028. Sementara ruas tersisa dari Mailoa menuju bagian yang belum tersambung akan menjadi bagian dari tahapan berikutnya.
Pembangunan jalan lingkar Pulau Makian pada akhirnya bukan hanya soal membuka ruas baru. Infrastruktur tersebut menentukan seberapa mudah warga dari satu desa menjangkau desa lain, membawa hasil pertanian, mengakses layanan dasar, hingga menggerakkan aktivitas ekonomi di wilayah pulau.
Karena itu, tantangan pemerintah bukan hanya memastikan proyek lima kilometer tahun ini selesai. Tantangan berikutnya adalah menjaga kesinambungan pembangunan agar ruas yang telah dibuka tidak kembali menjadi potongan-potongan jalan yang terpisah.
Progres 30 persen pada September menjadi penanda bahwa pekerjaan telah berjalan. Tetapi bagi warga Makian, ukuran keberhasilannya bukan sekadar persentase pembangunan.
Jalan itu baru benar-benar berarti ketika ruas-ruas yang selama ini terputus tersambung dan masyarakat dapat mengelilingi pulau melalui akses darat yang layak.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara kini menempatkan pembangunan jalan lingkar tersebut dalam tahapan hingga 2028. Janji yang dahulu disampaikan warga dalam bentuk permintaan jalan mulai berubah menjadi pekerjaan fisik di lapangan—lima kilometer pada tahap pertama, lalu berlanjut menuju ruas-ruas berikutnya.

Bagi masyarakat Pulau Makian, penantian panjang itu belum selesai. Tetapi setidaknya, kali ini pembangunan tidak lagi berhenti sebagai janji. (@b)

— AKHIR BERITA —
Bagikan

Berita Terkait