Puskesmas Soasio Perkuat Penanganan Kabut Asap Karhutla di Tidore Kepulauan
Puskesmas Soasio memperkuat penanganan dampak asap karhutla di Tidore Kepulauan melalui uji kualitas udara, pembagian masker, dan imunisasi door to door.

TIDORE — Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengancam kesehatan warga Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Pemantauan Puskesmas Soasio pada 12 dan 14 Oktober mencatat kualitas udara di sejumlah titik masuk kategori tidak sehat.
Situasi itu membuat Puskesmas Soasio meningkatkan upaya mitigasi. Langkah yang digencarkan mencakup uji kualitas udara, distribusi masker, serta penyesuaian layanan kesehatan untuk kelompok rentan.
Kepala Puskesmas Soasio, Zullaiha Ali, SKM, menyampaikan bahwa langkah tersebut ditempuh sebagai tindak lanjut instruksi Kepala Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan pada Senin, 12 Oktober. Mulai pukul 09.00 WIT, jajaran puskesmas menyatukan tim guna mengantisipasi dampak asap bagi warga.
Langkah ini dimaksudkan untuk menekan risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap dan partikel polutan di udara. Fokusnya pada bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan dan jantung.
Zullaiha menuturkan kepada media ini, “Langkah ini dilakukan sebagai upaya melindungi masyarakat dari dampak kabut asap, khususnya kelompok rentan yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan,” ujar Zullaiha kepada media ini.
Hasil uji pada 12 Oktober memperlihatkan kualitas udara di lapangan dan ruang kelas SDN serta SD Gurabunga, dan halaman Kantor Lurah Gurabunga, masuk kategori tidak sehat. Sementara itu, Pasar Gosalaha, Pelabuhan Goto Sarimalaha, Lapangan Taman Siswa, dan halaman Puskesmas Soasio berada pada kategori sedang.
Pemantauan berikutnya dilakukan 14 Oktober di lokasi lain. Di halaman Kantor Wali Kota Tidore Kepulauan kualitas udara tercatat sedang, tetapi ruang tunggunya termasuk tidak sehat.
Di lingkungan Dinas Kesehatan, halaman kantor tidak sehat sedangkan ruang tamu sedang. Adapun di rumah sakit, halaman parkir dan ruang anak tercatat tidak sehat, dan ruang tunggu poli umum dinilai sehat.
Perbedaan hasil antarlokasi itu menunjukkan kondisi udara tidak seragam. Pembacaan hasil uji perlu mempertimbangkan metode, satuan, serta ambang batas yang dipakai. Pemantauan lanjutan dibutuhkan untuk melihat perkembangan udara dan menjadi acuan informasi bagi publik.
Di luar pemantauan, Puskesmas Soasio membagikan masker di kawasan ramai. Pada 12 Oktober, sasaran meliputi depan Polsek, SMA Negeri 1, SMP Negeri 1, SMK, depan Lazato, Pasar Gosalaha, dan Tugulufa.
Pada 13 Oktober, pembagian berlangsung di Pasar Sarimalaha, Pasar Gosalaha, pelabuhan speed, dan Pasar Ikan Goto. Bidan desa turut menyalurkan masker di wilayah binaan masing-masing, sedangkan edukasi bahaya asap diperluas melalui imbauan dari mobil ambulans.
Sampai 15 Oktober, total 85 dos masker sudah dibagikan. Meski begitu, pembagian masker hanya perlindungan awal, sehingga warga tetap dianjurkan mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika udara memburuk.
Masker bedah juga belum sepenuhnya melindungi dari partikel halus dalam asap, karena itu membatasi paparan tetap penting.
ISPA juga menjadi perhatian di wilayah kerja Puskesmas Soasio. Kasusnya 91 pada Juli, naik menjadi 155 pada Agustus, lalu turun ke 131 pada September.
Selama 1–15 Oktober tercatat 105 kasus ISPA, dan pada 14 Oktober saja sekitar 12 kasus tercatat.
Jumlah itu belum cukup untuk memastikan semua keluhan ISPA terkait langsung dengan asap karhutla. Namun paparan asap bisa memperparah gangguan napas, khususnya pada kelompok rentan, sehingga pemantauan kasus dan edukasi kesehatan perlu diperkuat.
Kualitas udara yang buruk turut memengaruhi layanan. Kegiatan posyandu untuk sementara ditiadakan, dan bayi, balita, ibu hamil, serta lansia diminta membatasi kegiatan di luar rumah.
Walau begitu, layanan tetap diusahakan berjalan. Puskesmas Soasio menjalankan imunisasi dengan sistem door to door, yakni mendatangi langsung rumah warga, agar sasaran tidak harus ke fasilitas kesehatan saat udara kurang sehat.
Zullaiha meminta warga tidak meremehkan kabut asap, terutama bila udara di tempat tinggal atau tempat beraktivitas tergolong tidak sehat. Warga diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan, menghalangi asap masuk rumah, dan memakai alat pembersih udara jika tersedia.
Mereka yang terpaksa keluar rumah dianjurkan mengenakan masker sesuai tingkat paparan dan risikonya. Warga juga diminta segera ke fasilitas kesehatan jika sesak napas, batuk berkepanjangan, atau gejala pernapasan memburuk.
Sejauh ini Puskesmas Soasio sudah menempuh sejumlah langkah, mulai dari pembentukan tim, uji kualitas udara, pembagian masker, edukasi, hingga imunisasi dari rumah ke rumah. Upaya ini memerlukan dukungan lintas sektor dan peran aktif masyarakat.
Ancaman asap bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Udara yang memburuk berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan warga, terutama kelompok paling rentan. (@b)



