Langsung ke isi
Minggu, 11 Oktober 202609.10 WITTIDORE · MALUKU UTARA
Pemerintahan

Gubernur Sherly Tjoanda Laos Ajak Warga Merawat Rumah Besar Maluku Utara di Usia ke-27

Dalam peringatan HUT ke-27 Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Gubernur Sherly Tjoanda Laos menyebut daerah ini rumah besar yang harus nyaman dan dirawat bersama.

Bagikan
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos.

SOFIFI – Pada usia ke-27 tahun di 2026, Provinsi Maluku Utara dihadapkan pada tantangan agar pembangunan tidak berhenti pada angka, melainkan manfaatnya sungguh dirasakan warga.

Hal itu disampaikan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, ketika memaparkan refleksi pembangunan dalam rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Bersama Wakil Gubernur Sarbin Sehe, ia mengajak seluruh masyarakat menjaga kebersamaan dan memperkuat fondasi pembangunan daerah.

Sherly mengusung tema tentang rasa. Menurutnya, pembangunan semestinya membawa perubahan nyata bagi kehidupan warga, dan yang terpenting adalah sejauh mana hasilnya dirasakan masyarakat, bukan sekadar apa yang dibangun pemerintah.

“Pembangunan ini tentang rasa. Pembangunan ini harus terasa,” ujarnya.

Ia lalu menggambarkan Maluku Utara sebagai rumah besar tempat bernaung seluruh masyarakat, apa pun latar belakang maupun pilihannya.

Sebagai gubernur sekaligus seorang ibu, Sherly memandang amanah yang diembannya bersama Sarbin Sehe sebagai tanggung jawab merawat rumah itu agar kokoh dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kalau kita membangun rumah, pada usia 27 tahun harapannya rumah ini sudah kokoh dan nyaman. Pertanyaannya, sudahkah rumah ini terasa nyaman atau belum?” katanya.

Menurut Sherly, pertanyaan tersebut menjadi ruang refleksi bagi pemerintah daerah untuk menengok capaian yang sudah diraih serta pekerjaan rumah yang belum selesai.

Dalam analogi itu, usia 27 tahun tidak hanya penanda waktu, tetapi juga momentum meremajakan rumah, menguatkan bagian yang belum kokoh, dan membuat rumah besar bernama Maluku Utara semakin layak bagi seluruh penghuninya.

Memperkuat Fondasi Pendidikan dan Kesehatan

Sherly menyampaikan penghargaan kepada para pendahulu yang 27 tahun lalu berjuang membangun Provinsi Maluku Utara. Menurut dia, perjuangan itu menjadi dasar bagi generasi kini untuk melanjutkan pembangunan dan menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi anak cucu. Namun, fondasi yang telah dibangun itu perlu terus diperkuat.

Bersama Wakil Gubernur Sarbin Sehe dan Sekretaris Daerah, Sherly mengakui rumah besar Maluku Utara membutuhkan penyegaran dan revitalisasi, terutama di sektor mendasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat.

Pendidikan disebut sebagai salah satu fondasi utama yang perlu mendapat perhatian serius.

Pada dua tahun pertama kepemimpinannya, Pemerintah Provinsi Maluku Utara telah memulai kebijakan pendidikan gratis untuk tingkat SMA dan SMK.

Namun, ia menyadari akses pendidikan tanpa biaya belum memadai jika fasilitas sekolah tidak mencukupi.

Komputer, penerangan, akses internet, dan lingkungan belajar yang nyaman masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Kesempatan mendapat pendidikan yang baik harus diikuti sarana yang memungkinkan anak-anak Maluku Utara berkembang secara optimal.

Hal serupa berlaku di sektor kesehatan. Kebijakan layanan kesehatan gratis menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat, tetapi peningkatan kualitas pelayanan tetap perlu dilanjutkan.

Bagi Sherly, pendidikan dan kesehatan adalah fondasi awal. Setelah keduanya diperkuat, pemerintah juga harus memastikan masyarakat berkesempatan memperoleh pekerjaan yang layak, hidup mandiri, dan memenuhi kebutuhan keluarga dengan lebih baik.

Dengan begitu, pembangunan tidak berhenti pada tersedianya layanan dasar, tetapi berlanjut pada kehidupan yang lebih sejahtera.

Konektivitas Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi

Selain pendidikan dan kesehatan, Sherly menyoroti konektivitas sebagai persoalan mendasar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Maluku Utara.

Wilayah yang tersebar dengan karakter geografis kepulauan menjadikan akses antardaerah faktor penting bagi kelancaran mobilitas warga dan distribusi hasil produksi.

Untuk menjawabnya, pemerintah provinsi menjalankan pembangunan jalan lapen atau lapisan penetrasi pada 2025–2026 sepanjang 150 kilometer. Pada 2027, pembangunan kembali ditargetkan mencapai 150 kilometer, sehingga total panjang jalan yang ditargetkan dalam program tersebut mencapai 300 kilometer.

Jalan itu diharapkan memperbaiki akses desa, memudahkan mobilitas petani dan nelayan, serta melancarkan distribusi hasil pertanian dan perikanan.

Konektivitas yang lebih baik juga diharapkan memudahkan warga dari berbagai wilayah datang ke Sofifi saat ada kegiatan pemerintahan maupun agenda publik.

Bagi Sherly, pembangunan infrastruktur bukan semata soal panjang jalan atau besarnya anggaran. Jalan harus membuka kesempatan ekonomi, mendekatkan pelayanan, dan mengurangi hambatan yang selama ini dihadapi masyarakat.

Sofifi Harus Menjadi Ibu Kota yang Semestinya

Sherly kembali menegaskan komitmen menjadikan Sofifi sebagai ibu kota provinsi yang berfungsi sebagaimana mestinya.

Ia mengingatkan bahwa pembangunan ibu kota tidak bisa dibebankan hanya kepada gubernur dan wakil gubernur. Dibutuhkan keterlibatan banyak pihak, dari pemerintah, masyarakat, hingga seluruh elemen yang berkepentingan terhadap masa depan Maluku Utara.

Menurut dia, rumah besar bernama Maluku Utara tidak mungkin dibangun hanya oleh dua orang. Rumah itu harus dijaga dan dirawat bersama.

Pesan tersebut sekaligus ajakan agar perbedaan tidak menjadi penghalang pembangunan. Sherly menilai masyarakat perlu terus memelihara hubungan baik, saling menghargai, dan mengedepankan kepentingan bersama.

“Mari kita semua harus baku bae. Jangan karena perbedaan dalam membangun rumah yang bernama Maluku Utara ini, justru mengganggu rumah yang kita tinggali bersama,” pesannya.

Ungkapan baku bae menegaskan bahwa persatuan bukan berarti meniadakan perbedaan, melainkan menjaga agar perbedaan tidak merusak ruang hidup bersama.

Tidak Banyak Berjanji, tetapi Ingin Merawat

Di akhir pesannya, Sherly bersama Sarbin Sehe berterima kasih atas doa, cinta, dan kasih sayang masyarakat Maluku Utara yang mendukung mereka maupun keluarga.

Ia menyadari memimpin daerah tidak cukup dengan janji-janji besar. Ada tanggung jawab yang harus dibuktikan lewat kerja, keberanian memperbaiki kekurangan, dan kesediaan mendengar kebutuhan masyarakat.

“Kami tidak bisa berjanji terlalu banyak. Tetapi percayalah kepada kami, kami akan merawat Maluku Utara ini, sehingga ketika kami meninggalkan rumah ini, putra-putri Maluku Utara bisa melanjutkan dengan jauh lebih baik untuk anak cucu kita ke depan,” ungkapnya.

Pernyataan itu menempatkan pembangunan sebagai tanggung jawab lintas generasi. Pemerintahan hari ini bukan pemilik rumah, melainkan pihak yang diberi amanah merawatnya sebelum diserahkan kepada generasi selanjutnya.

Di usia ke-27 tahun, tantangan Maluku Utara tidak hanya mempertahankan capaian, tetapi juga memastikan setiap kebijakan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Sebab, keberhasilan pembangunan pada akhirnya diukur bukan dari apa yang berdiri, melainkan dari bagaimana warga hidup di dalamnya: merasa aman, memperoleh pendidikan dan kesehatan yang layak, memiliki pekerjaan, serta menatap masa depan dengan harapan.

Rumah besar Maluku Utara masih membutuhkan banyak pembenahan. Sebagaimana pesan Sherly, merawatnya bukan pekerjaan satu atau dua orang, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Maluku Utara. (@b)

— AKHIR BERITA —
Bagikan

Berita Terkait