Langsung ke isi
Jumat, 9 Oktober 202602.15 WITTIDORE · MALUKU UTARA
Borero Tidore

MBG Tembus Dusun Terpencil, SPPG Talaga Puncak Resmi Beroperasi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menjangkau lebih dekat masyarakat di wilayah terpencil Kota Tidore Kepulauan.

Bagikan

TIDORE – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menjangkau lebih dekat masyarakat di wilayah terpencil Kota Tidore Kepulauan.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dusun Talaga Puncak, Kelurahan Rum, Kecamatan Tidore Utara, resmi beroperasi, Jumat (2/10/2026).
SPPG Talaga Puncak menjadi salah satu titik pelayanan MBG yang masuk dalam wilayah prioritas 3T—Tertinggal, Terdepan dan Terluar. Peresmian SPPG wilayah 3T tersebut dilakukan secara serentak di sejumlah daerah Indonesia Timur.
Peresmian di Talaga Puncak dihadiri Wakil Gubernur Maluku Utara H. Sarbin Sehe, Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan Ahmad Laiman, Deputi Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN) Dr. Mariman Darto bersama jajaran, Kepala BPMP Maluku Utara, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Koordinator Regional MBG Maluku Utara, Koordinator Wilayah MBG Kota Tidore, serta sejumlah pejabat pemerintah provinsi dan pemerintah daerah.
Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN Dr. Mariman Darto mengatakan, MBG tidak boleh dipandang sebatas program pembagian makanan.
Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari upaya negara membangun generasi yang sehat, cerdas dan produktif.
Prinsip itu, kata Mariman, merupakan bagian dari arahan Presiden yang kemudian dituangkan dalam Perpres Nomor 115 Tahun 2025 dan diterjemahkan ke dalam strategi pemenuhan gizi masyarakat.
Tidak hanya siswa, perhatian program juga diarahkan kepada kelompok ibu hamil, ibu menyusui dan balita.
“Kami prioritaskan di daerah 3T. Selain arahan Presiden dan arahan dari Kepala Badan Gizi Nasional yang baru, kami menginginkan agar pada daerah-daerah potensial di 3T, hari ini ada sekitar 16 provinsi, 116 kabupaten/kota dan 480 SPPG atau dapur yang dibuka secara serentak,” kata Mariman.
Ia berharap pembukaan SPPG di wilayah 3T dapat membuat masyarakat di daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses turut merasakan manfaat MBG secara langsung.
Hanya 49 Penerima
SPPG Talaga Puncak menjadi salah satu dapur MBG dengan jumlah penerima manfaat yang relatif kecil.
Total penerima manfaat di lokasi tersebut hanya 49 orang.
Terdiri dari 18 siswa sekolah dasar, 11 guru dan 20 penerima manfaat kelompok 3B, yakni ibu menyusui, ibu hamil dan balita.
Meski jumlah penerimanya tidak banyak, Mariman meminta SPPG Talaga Puncak tetap memberikan pelayanan terbaik.
Apalagi, lokasi dapur berada cukup dekat dengan sekolah sehingga proses pengolahan makanan hingga pendistribusian dapat dilakukan dengan lebih terjaga.
“SPPG ini nantinya harus bisa menjadi SPPG terbaik, karena jaraknya dekat dengan sekolah, sehingga proses masak dan distribusi MBG juga tetap terjaga,” ujarnya.
Sarbin: Gizi adalah Investasi Masa Depan
Wakil Gubernur Maluku Utara H. Sarbin Sehe menyebut pemenuhan gizi sebagai bagian penting dari investasi pembangunan manusia.
Menurut Sarbin, pembangunan Indonesia tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur dan fasilitas fisik. Kualitas manusia juga harus dipersiapkan sejak dini melalui pemenuhan gizi yang baik.
“Memperbaiki gizi adalah investasi masa depan. Saat ini mimpi besar Indonesia bagaimana caranya gizi diperbaiki, stunting diturunkan bahkan pola hidup gizi diberikan,” kata Sarbin.
Ia mengakui pelaksanaan MBG masih membutuhkan penguatan, termasuk dalam membangun penerimaan dan pemahaman masyarakat terhadap program tersebut.
Pemerintah, lanjutnya, memiliki tanggung jawab memastikan program berjalan dengan baik serta memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi.
Sarbin juga menyinggung cakupan penerima manfaat MBG di Maluku Utara yang disebutnya belum mencapai 60 persen.
“Untuk wilayah Maluku Utara sendiri belum cukup 60 persen masyarakat dapat menikmati MBG. Yang diresmikan hari ini saja belum, apalagi yang di pulau-pulau. Ini baru satu dari sekian pulau, ada 976 pulau di Maluku Utara,” ujarnya.
Karena cakupannya luas dan menyentuh banyak kelompok masyarakat, Sarbin menekankan pentingnya integritas dalam pengelolaan MBG.
“MBG ini program yang luar biasa, maka butuh orang-orang jujur dan berintegritas yang harus mengelola ini, sehingga pelaksanaannya dapat maksimal, tepat sasaran dan tidak menimbulkan masalah,” tuturnya.
Pemkot: Jangan Lihat dari Jumlah Penerima
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan Ahmad Laiman mengapresiasi BGN dan pemerintah pusat yang telah menetapkan Talaga Puncak sebagai salah satu lokasi pelayanan MBG.
Bagi Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, kehadiran SPPG di Talaga Puncak tidak semata-mata diukur dari jumlah penerima manfaat.
Lebih dari itu, keberadaan dapur MBG tersebut dinilai sebagai upaya mendekatkan pelayanan pemenuhan gizi kepada masyarakat yang berada jauh dari pusat kota.
“Kami sangat berterima kasih kepada BGN dan jajarannya, juga kepada Pemerintah Pusat karena telah melakukan upaya terbaik sehingga menempatkan titik di salah satu dusun kami,” kata Ahmad.
Ia berharap usulan sejumlah titik SPPG lainnya di wilayah Kota Tidore Kepulauan juga mendapat respons dari BGN.
“Kami berharap selanjutnya titik-titik yang telah diusulkan itu mendapat respons baik dari BGN,” harapnya.
Ahmad menyebut hasil peninjauan menunjukkan fasilitas dapur SPPG Talaga Puncak cukup baik. Lokasinya juga berada dekat dengan sekolah, sehingga diharapkan dapat mendukung proses penyediaan dan distribusi makanan bergizi.
Ia menegaskan, jumlah 49 penerima manfaat bukan alasan untuk melihat SPPG Talaga Puncak sebagai layanan dengan skala kecil.
“Meskipun penerima manfaat di Talaga Puncak hanya 49 orang, tetapi jangan dilihat dari jumlahnya, karena masyarakat Indonesia perlu mendapatkan manfaat terbaik dalam pemenuhan gizinya,” ujarnya.
Bagi Pemkot Tidore Kepulauan, hadirnya SPPG di Talaga Puncak menjadi langkah untuk memperluas akses pemenuhan gizi, terutama bagi masyarakat di wilayah yang selama ini relatif jauh dari pusat pelayanan.
Program MBG pun diharapkan tidak berhenti pada tersedianya makanan bergizi setiap hari.
Di balik seporsi makanan yang dibagikan, ada investasi jangka panjang: memperbaiki kualitas gizi, menekan stunting dan menyiapkan generasi yang lebih sehat untuk masa depan Kota Tidore Kepulauan dan Maluku Utara.(@b) 

— AKHIR BERITA —
Bagikan

Berita Terkait